Senin, 15 April 2013

FILM HABIBIE & AINUN DALAM KAJIAN SEMANTIK


BAB I
PENDAHULUAN
Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna, baik itu makna leksikal maupun makna gramatikal (Verhaar, 2006:13). Dijelaskan bahwa semantik sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna atau arti yang ada pada tatabahasa morfologi, sintaksis maupun leksikon. Semantik dibagi dua antara lain, semantik gramatikal dan semantik leksikal. Oleh karena itu makna gramatikal, makna fungsional, makna struktural, atau makna internal. Makna yang muncul dikarenakan akibat berfungsinya suatu kata dalam kalimat sedangkan makna leksikal yaitu, makna suatu kata terdapat dalam kata yang berdiri sendiri.
Pateda (2010:65) berpendapat bahwa semantik merupakan disiplin linguistik yang membahas secara mendalam tentang sistem makna. Melalui objek makna semantik dapat dikaji melalui banyak segi penggunaan teori yang berbeda aliran dalam linguistik. Jadi dengan semantik kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan makna, bagaimanakah wujud makna, apakah jenis makna, apa saja yang berhubungan dengan makna, apakah komponen makna, apakah makna berubah, mengapa makna berubah, apakah setiap kata hanya memiliki satu makna atau lebih, bagaimanakah agar kita mudah memahami sebuah kata, semuanya dapat ditelusuri melalui disiplin ilmu yang disebut dengan semantik.
Dalam makalah ini peneliti mengambil objek film “Habibie & Ainun”. Film berjudul ‘Habibie & Ainun’ di ilhami buku yang berjudul serupa karya Habibie sendiri, film ini mengisahkan Habibie dan Ainun dari remaja hingga masa senja. Dari Indonesia ke Jerman sampai Ainun menutup usia yang dibintangi Bunga Citra Lestari (Hasri Ainun Habibie) dan Reza Rahardian (BJ Habibie) dan Faozan Rizal dipercaya memimpin proyek film yang direncanakan berdurasi 118 menit ini.
Peneliti akan mengkaji film ini berdasarkan kajian semantik.
                                                                          
BAB II
PEMBAHASAN
Tak hanya Romeo dan Juliet yang memliki kisah cinta sejati nan romantis. Habibie dan Ainun pun memiliki kesetiaan cinta hingga akhirnya maut memisahkan.
Film menceritakan bagaimana Habibie dan Ainun saling berpegangan tangan menghadapi berbagai rintangan hidup. Ainun merupakan cinta pertama dan terakhir untuk Habibie. Sang ahli pesawat terbang merupakan kawan lama Ainun. Setelah berpisah sekian lama, cinta mempertemukan mereka di Bandung, Jawa Barat.
Berbagai macam rasa ditumpahkan pak Habibie dalam tulisannya dan kemudian difilmkan. Film ini mengajak kita untuk menikmati surat cinta atas kekaguman abadi seorang suami. Mengajak mendalami jurnal politik mengenai kondisi situasi genting negara yang baru merdeka. Mengajak merenungi isi pikiran seorang putra bangsa dengan kecintaannya yang luar biasa pada negara dan bangsanya yaitu Indonesia.
Film ini bukan tentang Bu Ainun, bukan pula Pak Habibie. Film ini mutlak mengenai Habibie&Ainun. Banyak yang berpikir tidak ada rumah tangga yang benar-benar sempurna, jauh dari segala keburukan. Pasti ada ketidakpuasan dan perselisihan serta kekecewaan. Namun menonton film dari catatan hati pak habibie  mengenai istrinya, saya seperti diyakinkan kembali bahwa rumah tangga yang mendekati kesempurnaan itu memang ada.
Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata antara Habibie dan Ainun, maka rasanya juga sudah bukan rahasia lagi bahwa film ini juga akan menampilkan masa-masa sulit ketika Habibie akhirnya harus ditinggalkan oleh Ainun untuk selamanya.
Munculnya film ini banyak digemari oleh warga Indonesia. Bahkan petinggi negara pun ikut menontonnya. Film ini dimunculkan untuk mengembalikan citra perfilman Indonesia. Biasanya film Indonesia dinilai kurang bagus. Tapi dengan munculnya film ini justru memperbaiki citra perfilman Indonesia, bahkan banyak negara luar yang ingin memutar film ini di negaranya. Selain itu, film ini ditayangkan adalah untuk mengenang jasa-jasa yang telah dilakukan oleh B. J. Habibie dan Ibu Ainun. Meskipun mereka telah sukses di Jerman namun mereka rela meninggalkan kemegahan di sana dan kembali di Indonesia untuk membangun negara tercintanya.
Terkadang orang Indonesia lupa akan negaranya sendiri ketika telah sukses di negeri orang. Tetapi berbeda dengan pak B. J. Habibie dan Ibu Ainun. Film ini penuh dengan pembelajaran.
  
SIMPULAN
Film Habibie dan Ainun ditayangkan untuk memperbaiki citra perfilman Indonesia. Selain itu untuk mengenang jasa-jasa yang telah diberikan oleh B. J. Habibie dan Ainun. Karena beliau berdua mau meninggalkan kemegahan di Jerman dan kembali ke Indonesia untuk membangun Indonesia.

SARAN
Sebagai warga Indonesia kita harus bangga dengan produksi perfilman yang bagus dan mendidik. Karena di Indonesia juga bisa memunculkan film yang penuh dengan pembelajaran.













DAFTAR PUSTAKA

Anonim            .           “Cinta Pertama & Terakhir Pak Habibie Dalam Film Habibie & Ainun” (http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/11/01/cinta-pertama-terakhir-pak-habibie-dalam-film-habibie-ainun-505191.html diakses pada tanggal 18 Desember 2012 pukul 10.10)


Anonim            .           “Habibie dan Ainun Digarap Hanung”
(http://www.antaranews.com/berita/321964/habibie-dan-ainun-digarap-hanung diakses pada tanggal 18 Desember 2012 pukul 10.13)

Anonim            .           “Kisah Cinta Habibie dan Ainun Tayang Desember 2012” (http://www.metrotvnews.com/metrotainment/newsvideo/2012/11/08/163652/Kisah-Cinta-Habibie-dan-Ainun-Tayang-Desember-2012/12 diakses pada tanggal 18 Desember 2012 pukul 10.17)

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta

Sumarsono. 2007. Pengantar Semantik. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Sabtu, 13 April 2013

KARAKTERISTIK DIALEK BAHASA JAWA DAERAH BREBES



BAB I
PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
Bahasa Jawa mempunyai beberapa dialek, yang bisa dibedakan dari ciri-ciri tertentu. Sepintas perbedaan itu dapat dilihat dari ucapan dan kosakatanya. Namun, dua hal itu belum mewakili ciri perbedaan secara keseluruhan sebelum dikaitkan dengan pembicaraan struktur dialeknya.
Dialek Jawa Tegal dipakai oleh sebagian besar masyarakat Kota dan Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes dan Pemalang. Di tempat lain ada dialek yang mirip, yaitu di Cirebon, Indramayu, Jatibarang, dan Sukra. Di bagian selatan dekat Eks Karesidenan Banyumas, ada pengaruh dialek Banyumas, sedangkan di bagian timur dekat Comal, mirip dialek Pekalongan. Sebaliknya dialek Banyumas dan Pekalongan juga ada yang terpengaruh dialek Tegal.
Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa, selain Banyumas. Meskipun memiliki kosakata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas, dialek Tegal memiliki perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata dengan dialek Banyumas.
Dalam hal ini dialek Brebes mengikuti dialek Tegal. Karena itu antara dialek Tegal dan Brebes itu sama.
2.        Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya antara lain:
a.       Apa yang dimaksud dialek Jawa Brebes?
b.      Bagaimana karakteristik dialek Jawa Brebes?
c.       Bagaimana penggunaan dialek Jawa Brebes dalam masyarakatnya?
3.        Tujuan Penelitian
Adapun tujuannya antara lain:
a.       Mengetahui tentang dialek Jawa Brebes
b.      Mengetahui karakteristik dialek Jawa Brebes
c.       Mengetahui penggunaan dialek Jawa Brebes dalam masyarakatnya
  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahasa Brebes atau Bahasa Ngapak sebenarnya tidak hanya dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah saja. Bahasa Jawa Brebes ini pun menjadi bahasa ibu di seluruh wilayah Jawa Tengah bagian utara yang meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang.
Meskipun Bahasa Brebes ini terbatas hanya dituturkan oleh masyarakat di Jawa Tengah bagian utara, ternyata memiliki karakteristik berbeda-beda dari masing daerah. Tiap-tiap daerah memiliki aksen yang berbeda-beda. Taruh contoh masyarakat di daerah Brebes dan Tegal, berdasarkan pengamatan di daerah ini memiliki karakteristik yang lebih cepat pengucapannya, hal ini berbeda dengan di Cilacap yang menurut saya aksennya lebih lambat dalam hal pengucapannya serta ada pemanjangan pada beberapa suku kata. Di Cilacap Barat akibat pengaruh bahasa Sunda, menjadikan bahasa banyumasan di daerah tersebut memiliki beberapa perbedaan dengan dareah Cilacap yang lain. Hal ini juga terjadi dengan daerah Brebes bagian barat yang berbatasan langsung dengan daerah Cirebon. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa sunda daripada bahasa Jawa Brebes. Beberapa daerah bahkan memiliki perbedaan istilah untuk benda atau kata tertentu.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1.        Jenis Penelitian
Pennelitian ini menggunakan pendekatan-pendekatan, yaitu pendekatan deskriptif, kualitatif , dan sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah kajian tentang cirri khas, variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakaiannya, ketiga unsure ini selalu berinteraksi , berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur (Fishman dalam Chaer dan Agustina 2004:3)
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Jenis ini diambil karena peneliti akan mendeskripsikan atau menjelaskan tentang karakteristik dari bahasa Jawa Brebes.
2.        Sumber Data
Data yang didapatkan langsung dari masyarakat Brebes dan referensi lainnya.
3.      Teknik Pengumpulan
Teknik pengumpulan data dengan metode simak, sadap, bebas libat cakap.

Teknik simak adalah apabila ada orang sedang berbicara maka menyimak orang tersebut, menyimak penggunaan bahasa. Teknik sadap adalah menyadap penggunaan bahasa orang yang menjadi informan untuk mendapat data, lalu teknik libat cakap adalah apabila ada orang yang berdialog maka penulis ikut dalam percakapan tersebut.
Metode analisis data yang dilakukan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gejala-gejala atau keadaan yang terjadi pada subjek penelitian. Keadaan yang akann diteliti adalah karakteristik bahasa jawa Brebes.
Metode kajian isi adalah teknik penelitian yang dimanfaatkan untuk menarik kesimpulan yang replikatif dan sahih dari data atas dasar konteksnya (Krippendorf dalam Moleong 2002: 163).
  
BAB IV
PEMBAHASAN
Kita kadang mendengar bahwa dialek Brebes masuk dalam bagian bahasa ngapak-ngapak yang secara umum dianggap bahasa kasar serta dipertautkan dengan kelas ’’rendah’’, bahasa kaum proletar. Bagaimana pun keberadaan bawasa Jawa dialek Brebes tetap harus diakui, dihormati dan dikembangkan, oleh karena dialek itu adalah ragam bahasa yang secara nyata hidup dan menjadi alat komunikasi efektif di dalam kehidupan bermasyarakat masing-masing.
Dalam paradigma dan konteks ini bahasa Jawa Brebes diangkat dan disandingkan dengan bahasa Jawa standar atau normatif tanpa berpretensi bahwa yang satu lebih unggul dari lainnya. Sebagai penyangga paradigma dan konsep pluralisme masing-masing memiliki derajat sama tetapi dengan peran dan fungsi yang berbeda serta intensitas dan efektivitas komunikasi yang tidak sama.
Pada praktik kehidupan sehari-hari, pembicaraan atau komunikasi dengan dialek regional bisa menghadirkan nuansa kekeluargaan, keakraban, dan kelugasan yang lebih kental dibanding menggunakan dialek baku. Dialek Brebes terasa lebih demokratis tanpa perbedaan kelas dan strata.
Implikasi selanjutnya adalah perkembangan bahasa Jawa yang melahirkan tingkatan-tingkatan bahasa berdasarkan status sosial. Tetapi pengaruh budaya feodal ini tidak terlalu signifikan pada masyarakat di wilayah Brebes.
Bahasa Jawa Brebes banyak memyimpan ciri-ciri yang mirip dengan atau sama dengan bahasa Jawa Kuna yaitu dengan masih memelihara huruf akhir konsonan *-b, *-d, dan *-g misalnya tengkureb(tengkurap), lemud(nyamuk) dan wareg (kenyang). Untuk *-k misalnya pundak (pundak) dan jentik (jari), akhiran *-ek misalnya cecek (cicak). Ciri yang lain dalam hal suku kata, bahasa Jawa Brebes masih memelihara kata-kata yang bersuku kata tiga, seperti weringin (pohon beringin), dan kemiri (kemiri).
Berikut ini akan dijelaskan mengenai bahasa Jawa Brebes dan contoh penggunaannya di masyarakat.

Dialek Brebes
Arti
sega
nasi
enak
enak
pada
sama
saka
dari
apa
apa
tuwa
tua
maning
lagi
maring
ke
lunga
pergi
endog
telur
teka
datang
gandhul
pepaya
garu
sisir
gelis
cepat
gemerah
ribut/ berisik
gene
milik
goroh
bohong
bae
saja
kyeh
ini
pan
akan
koen
kamu
nyong
aku

Contoh penggunaannya di masyarakat
1.      Mangan sega lawuhe endog tok be enak nemen.
“Makan nasi lauknya telur saja sudah enak sekali.”

2.      Koen wis tuwa ka senenge goroh.
“Kamu sudah tua sukanya berbohong.”

3.      Gelis, jukutna garu nggo nyong!
“Cepat, ambilkan sisir untuk saya!”

4.      Aja pada gemerah, adine lagi turu!
“Jangan berisik, adiknya sedang tidur!”

5.      Koen pan lunga maring ndi?
“Kamu mau pergi kemana?”

Dalam sebuah percakapan
Percakapan 1
A         : “Fik, wis mangan durung?”
B         : “Durung mba, ana sega?”
A         : “Kae segane nembe mateng.”
B         : “Yawis, nyong tak mangan disit.”

Percakapan 2
A         : “Aja gemerah bae! Adine lagi turu.”
B         : “Dudu nyong, kae batire sing gemerah.”
A         : “Aja goroh koen, wis gede ka goroh bae!”
B         : “Yakin sung nyong ora goroh.”


BAB V
PENUTUP
Simpulan
            Pada praktik kehidupan sehari-hari, pembicaraan atau komunikasi dengan dialek regional bisa menghadirkan nuansa kekeluargaan, keakraban, dan kelugasan yang lebih kental dibanding menggunakan dialek baku. Dialek Brebes terasa lebih demokratis tanpa perbedaan kelas dan strata.
Bahasa Jawa Brebes banyak memyimpan ciri-ciri yang mirip dengan atau sama dengan bahasa Jawa Kuna yaitu dengan masih memelihara huruf akhir konsonan *-b, *-d, dan *-g misalnya tengkureb(tengkurap), lemud(nyamuk) dan wareg (kenyang). Untuk *-k misalnya pundak (pundak) dan jentik (jari), akhiran *-ek misalnya cecek (cicak). Ciri yang lain dalam hal suku kata, bahasa Jawa Brebes masih memelihara kata-kata yang bersuku kata tiga, seperti weringin (pohon beringin), dan kemiri (kemiri).

Saran
Kita kadang mendengar bahwa dialek Brebes masuk dalam bagian bahasa ngapak-ngapak yang secara umum dianggap bahasa kasar serta dipertautkan dengan kelas ’’rendah’’, bahasa kaum proletar. Bagaimana pun keberadaan bawasa Jawa dialek Brebes tetap harus diakui, dihormati dan dikembangkan, oleh karena dialek itu adalah ragam bahasa yang secara nyata hidup dan menjadi alat komunikasi efektif di dalam kehidupan bermasyarakat masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA
Wijana, I Dewa Putu, Muhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta. Pustaka Pelajar